‘Triiing’
Suara lonceng penanda pintu terbuka terdengar nyaring bersanding dengan deras hujan. Seorang pria berkemeja flanel biru-hijau memasuki toko bunga. Kuyup. Rambut ikalnya lepek, celana kain panjangnya bergradasi cream-coklat tertanda basah sampai dengkul.
“Selamat datang di Magic Flower Shop! Ada yang bisa aku bantu?” Sapa wanita muda berambut sebahu, memakai celemek hijau tua bertuliskan ‘Magic Flower Shop’.
Si pria yang disapa merengkuh tas ranselnya sambil menunduk. “Maaf kak, saya kehujanan, lantainya jadi basah.”
“Gapapa, kak. Air doang, kok, bukan asam sulfat. Lantainya juga dari kayu oak. Aman.”
Jawaban yang agak aneh, pikir si pria. Tapi dia tidak merasakan aura kemarahan maupun rasa terganggu dari pegawai wanita tersebut. Senyumnya juga ramah dan tidak sarkas. Mungkin ini memang bercanda anak muda jaman sekarang.
“Oh iya, kakaknya cari bunga apa?” Tanya pegawai wanita sembari berjalan dari balik counter ke area showcase bunga-bunga segar. Si pelanggan perlahan mengikuti. “Kita ada mawar merah, putih, peach, ungu, pink, ada gerbera juga cantik-cantik banget—aku suka yang orange—ada hydrangea, ranunculus, aster, krisan, bunga matahari, lily casablanca-nya ada yang pink, putih, kuning. Ada cala lily—tapi tinggal yang putih—sama ada snapdragons juga. Oh iya, sedap malam sama lisianthusnya juga baru dateng, kak. Ada peony juga kalau kakak mau—tapi stoknya tinggal 3 batang. Atau lihat-lihat dulu aja juga boleh. Kalau tiba-tiba ada yang kakak suka, tanya aku aja!”
Hah? Pegawai wanita itu menjelaskan dengan terlalu ceria, terlalu antusias, terlalu cepat sampai si pria hanya bisa menangkap mungkin setengahnya saja—atau seperlima. Apa tadi? Calamari?
“Ini benar toko Magic Flower Shop, kan, ya?” Si pria bertanya dengan sedikit ragu.
“Benar sekali, kak!” Angguk si pegawai menaikkan gestur jempol.
“Saya cari … magic flower …”
“Oh,” Ekpresi si pegawai wanita berubah seketika. Senyumnya memudar. Mata yang berbinar berubah memicing. Nada suara yang ceria merendah serius.
“Nama?”
“Sabda. Bumi Sabda.”
“Umur?”
“29 tahun.”
“Kamu bawa persyaratannya?”
“Iya.”
“Sini, ikut aku.”
Sabda mengikuti pegawai wanita tersebut melewati pintu di belakang counter kasir, berjalan sekitar sepuluh meter melalui lorong yang hanya selebar pintu. Di ujung lorong berdiri pintu kayu jati yang terkesan tua dan megah.
Di keempat sudut daun pintu tersebut terdapat ukiran bunga mawar, di sisinya terukir juntaian dedaunan philodendron, bunga poppy, daisy, camellia, iris, dan begonia. Ukiran seikat tujuh batang bunga anyelir di tengah pintu merekah bak mahkota. Di atasnya terpahat ανταλλαγή αξίας
‘Tukar satu yang berharga.’
